Hai!!

"Sekiranya anda datang dari lurah yang dalam dan bercita-cita menakluki puncak tinggi, itu bukan mimpi. selagi anda berpegang kepada visi dan memiliki matlamat yang jelas, anda berkomited untuk meneruskan perjalanan, berkemungkinan besar anda tetap akan berjaya.kalau pun tidak dapat mencapai puncak anda sebenarnya mangkin hampir kepadanya. itu lebih baik daripada MENDIAM DIRI "

MEMORY

MEMORY

..............

..............

.............

.............

Running

Running

Google+ Followers


Get this widget!

Hutang Kepada Anak-anak

Tuesday, August 25, 2015

Malam ni, selepas tidurkan anak-anak..  Kebiasaanya, saya akan melayari internet di  telefon pintar untuk mencari bahan-bahan yang boleh dibaca. Alhamdulillah dengan izin Allah, terjumpa artikel berkenaan anak-anak.  

Membaca artikal ini membuatkan naluri saya sebagai ayah tersentuh dan mengalir air mata kerana terasa diri masih terlalu banyak kekurangan. Sebagai ibu bapa, tak sepatutnya perasaan "berpuas hati" ada, kerana selagi meraka masih ada selagi itulah mereka memerlukan kita.

Pengorbanan kita sebagai ibu bapa bukan sekadar memberi pendidikan, mencari harta kekayaan, mencukupkan makan dan minum tetapi lebih kepada meluangkan masa bersama mereka. Artikal ini membuatkan saya sedar sebenarnya terlalu banyak hutang saya pada mereka. Pernahkah kita tanya pada diri bahawa keinginan kita sebenarnya terlalu tinggi dengan menetapkan itu dan ini. Sedangkan mereka pada usia ini lebih memerlukan perhatian dan kasih sayang. Senyuman kecil mereka dah cukup menceritakan bahawa mereka amat  memerlukan sedikit kasih sayang dari kita dan segala tingkah laku mereka sebenarnya ingin meluahkan perasaan Cinta mereka kepada kita.


Jadi saya berhasrat untuk share pada ruangan Blog ini untuk rujukan saya dan isteri terutamanya dan pembaca semua.


Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiaka. Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita. Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan. Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya. Lebih baik dari sebelumnya." 

(Sumber: Fahd Pahdepie,http://kisah-renungan.blogspot.com/)

4 Komen/Ulasan:

Anonymous said...

What's up, I read your new stuff on a regular basis. Your humoristic style is witty, keep doing what you're doing!


my blog post: Stormfall Rise Of Balur Guide

Anonymous said...

Have you ever thought about including a little bit more than just your articles?

I mean, what you say is valuable and everything. Nevertheless think about if you added some
great graphics or videos to give your posts more, "pop"!
Your content is excellent but with images and videos, this website could undeniably be one of the most beneficial in its field.
Superb blog!

my page; lasertest

Anonymous said...

I do not even know how I ended up here, but I thought this
post was good. I do not know who you are but certainly you are going to a famous
blogger if you aren't already ;) Cheers!

Here is my web site ... lasertest

Anonymous said...

With havin so much content do you ever run into any issues
of plagorism or copyright infringement? My blog has a
lot of completely unique content I've either written myself or outsourced but it appears
a lot of it is popping it up all over the internet without my agreement.
Do you know any ways to help reduce content from being stolen? I'd
truly appreciate it.

Feel free to surf to my web site :: lasertest

Post a Comment

Terima Kasih melayari blog Mutiara Hati Insan
Thank you for visiting the blog Mutiara Human Liver .

10 Artikel Popular